Search

Yakin Kain Organik Lebih Ramah Lingkungan??? Yuk, Check Faktanya!

Updated: Feb 26


Halo semua! Kembali lagi di Kainspirasi blog! Blog inspiratif persembahan kain.id yang akan membahas seputar dunia tekstil, tren dan juga tips and trik edukatif!


Seringkali kita temukan di berbagai media bahwa kain yang dibuat dari serat organik itu ramah lingkungan dan sustainable, sedangkan kain non organik, seperti misalnya polyester, disinyalir merupakan perkara utama pencemaran lingkungan.


Namun, apakah benar kenyataan seperti itu?

Bagaimana dengan faktor eksploitasi alam sendiri untuk mendapatkan bahan bakunya? Bagaimana dengan proses pembuatan kain organik tersebut?

Apakah benar terbebas dari berbagai bahan kimia?

Apakah ini semua benar adanya atau kita hanya menutup mata akan permasalahan ini?


Pada kesempatan ini, Kainspirasi akan mengulas tuntas apakah benar bahwa kain polyester itu berdampak buruk seperti apa yang diberitakan media?


Namun, sebelum kita membahas lebih jauh, mari kita kenali terlebih dahulu apakah perbedaan kain yang terbuat dari serat organik dan non organik alias buatan manusia.


Baca juga : "Be a smart buyer! Lima hal berikut wajib kamu perhatikan sebelum berbelanja kain!"


Perbedaan Kain Organik dan Non Organik


Faktor utama yang membedakan jenis kain tersebut adalah dari mana seratnya berasal. Seperti yang kita ketahui ada 3 jenis kain yang beredar di pasaran, yaitu:

kain organik

kain semi sintetis

kain sintetis/non organik.


Kain organik adalah kain yang 100% seratnya berasal dari alam, seperti misalnya: Katun yang berasal dari serat tanaman kapas, sutra yang berasal dari ulat sutra, wol yang berasal dari bulu domba.


cotton field
Cotton field, source shutterstock

Kain semi sintetik adalah kain yang merupakan campuran dari serat alam dan buatan manusia, seperti misalnya: Rayon yang berasal dari campuran pulp kayu dan serat sintetis buatan manusia.


Kain non-organik atau sintetik adalah kain yang keseluruhan seratnya dibuat dari bahan buatan manusia. Contoh: kain polyester yang berasal dari serat polymer atau biji plastik.


Baca juga : "Fashion Trend Spring & Summer 2021. Penasaran? Cek Disini"

Pada pembahasan kali ini, kainspirasi akan menitikberatkan pada perbandingan antara kain organik dengan kain polyester.


Konsep fast fashion yang selalu merilis barang baru dan mendorong customer untuk membeli dan mengikuti trend juga menjadi salah satu problem yang meningkatkan limbah kain di dunia.


Lebih cepat diurai, tapi...


Seringkali menjadi permasalahan bahwa kain polyester membutuhkan puluhan tahun untuk sampai benar-benar terurai dengan tanah, memang bukan waktu yang sebentar, namun tahukah kamu bahwa kain polyester itu kebanyakan masih bisa di daur ulang menjadi benang lagi atau menjadi berbagai bahan lain seperti misalnya, aspal.


Yup! Jika kita membandingkannya dengan product life kain organik yang sangat mudah rusak, sehingga kita harus memproduksi dan terus menerus dan mengeksploitasi alam, maka permasalahan ini wajib loh untuk diperhitungkan.



Eksploitasi lingkungan untuk bahan baku dan proses pembuatan


Seperti yang kita ketahui, kain polyester berasal dari pengolahan minyak bumi. Bagaimana dengan kain organik lainnya? Sudah bukan rahasia lagi bahwa untuk membudidayakan tanaman kapas, bambu dan kayu yang membutuhkan banyak air dan penggunaan pestisida yang sangat besar yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem dan merusak alam.


Baca juga : "BAHAN RAYON: BAHAN KAIN PENGGANTI SUTRA"

Belum lagi proses printing kain katun yang harus menggunakan tinta reaktif supaya bisa menyerap dan hal ini juga menghasilkan pencemaran air yang sangat buruk. Sangat bertolak belakang dengan proses printing kain polyester yang menggunakan tinta yang melapisi lapisan atas kain sehingga limbah yang dihasilkan jauh lebih sedikit, hampir tidak ada.


Seringkali juga banyak pabrik yang menelantarkan post production water treatment sehingga limbahnya tidak terurus.



Bagaimana dengan emisi karbon?


Jika kita membicarakan emisi karbon, proses pembuatan kain organik dan non organik pun juga serupa; bahan baku dibuat benang kemudian dipintal dan ditenun. Hanya saja, kain organik membutuhkan air yang jauh lebih banyak. Jadi soal emisi karbon, sebenarnya juga sama saja.


Namun, jika kita harus membandingkan proses treatment kain juga yang dimana kain organik membutuhkan lebih banyak proses, pastinya emisi yang dihasilkan pun akan lebih banyak dibandingkan dengan pembuatan kain polyester.


Baca juga : "10 Jenis Kain Katun yang Menguasai Pasar Tahun 2020"

Tapi tetap saja plastik merupakan polusi terbesar di dunia ini !!


Benar faktanya bahwa plastik itu memang penyumbang polusi terbesar di dunia ini.


Namun berdasarkan riset dari berbagai sumber, itu semua terjadi akibat penggunaan packaging sekali pakai dan limbah berbagai produk FMCG (Fast Moving Consumer Goods).


Jika kita melihat statistik dibawah, limbah tekstil sendiri hanya menghasilkan sekitar 37 juta ton, sangat kecil dibandingkan angka penggunaan packaging sehari-hari kita.



Setelah ditelaah lagi, dari limbah tekstil sendiri limbah kain organik menyumbang 45% dari total limbah dan sisanya dihasilkan oleh limbah polyester, dengan gap hanya 10%!


Ternyata itu semua disebabkan oleh bahan organik yang mudah rusak dan tidak tahan lama. Ini juga yang menjadi alasan utama mengapa bahan tas, celana olahraga, jaket dan pouch dibuat dari bahan polyester supaya lebih tahan lama dan tidak mudah dibuang.


Baca juga : "Mengenal Lebih Jauh Bahan Twill, Jenis dan Penggunaannya"

Di Indonesia sendiri yang penggunaan spanduk dan baliho yang masih sangat tinggi, juga menghasilkan tambahan limbah textil yang sangat parah mengingat penggunaanya yang sebentar saja.




Jadi bagaimana solusinya?


Riset menunjukkan bahwa ternyata produksi kain organik pun memiliki berbagai dampak negatif terhadap lingkungan seperti :

Penggunaan air berlebih

Pencemaran kimia

Emisi karbon yang lebih tinggi

Bahkan yang lebih parah adalah eksploitasi alam yang lebih sering dilakukan karena karakter kain organik yang lebih mudah rusak dan tidak tahan lama.


Baca juga :